Pertemuan Rutin

Report Pertemuan Rutin Dwimingguan ke-21 (Etnoastronomi)



Pertemuan Rutin edisi ke-21 ini menghadirkan materi mengenai Etnoastronomi yang dibawakan oleh Bapak Ferry M. Simatupang selaku pemateri undangan. Dan suatu keistimewaan tersendiri, Bang Ferry (begitu panggilan akrabnya), juga hadir bersama 3 orang yang memiliki pengalaman dalam ilmu etnoastronomi. Pertemuan rutin HAAJ pada  hari itu dihadiri oleh lebih dari 60 peserta yang berasal dari kalangan umum, siswa dan mahasiswa.

Apa itu ilmu Etnoastronomi? Etnoastronomi merupakan ilmu yang mempelajari keterkaitan antara Astronomi dengan kebudayaan setempat. Di awal pertemuan, pembicara membahas bagaimana proses manusia mempelajari dan mengenal ilmu astronomi. Di mulai dari sejarah manusia mulai mengenal dan mempelajari alam semesta, penamaan rasi-rasi bintang yang didasarkan pada kepercayaan orang Yunani Kuno, sampai manfaat mempelajari rasi bintang tersebut sebagai petunjuk dalam menjalankan kehidupan pada saat itu yang belum dilengkapi dengan teknologi. Bahkan perkembangan ilmu tersebut cukup memberikan dampak yang berarti pada kehidupan masyarakat di Indonesia.
Tidak hanya itu, pembicara juga memberikan gambaran mengenai keterkaitan beberapa bangunan bersejarah di Dunia, termasuk Indonesia yang dibangun berdasarkan pengamatan benda langit.  Misalnya saja bangunan bersejarah Stonehenge di London, Inggris yang ternyata dibangun dengan tujuan untuk kepentingan  astronomi. Bangunan ini dibangun dengan mengacu pada titik balik matahari dan equinox. Hal ini akan menunjukkan bahwa pada musim panas, sinar matahari akan mengarah tepat di antara dua susunan batu pada bangunan tersebut. Tidak hanya Stonehenge, masih banyak bangunan bersejarah di dunia yang mengacu pada ilmu astronomi yang dibahas pada pertemuan rutin kali ini. 
Di Indonesia, candi Prambanan juga menggunakan sistem pembangunan yang didasarkan oleh ilmu astronomi. Bahkan pada saat ini, beberapa Astronom sedang melakukan penelitian mengenai keterkaitan Candi Borobudur dengan Astronomi. Beberapa peneliti yang sedang melakukan misi tersebut juga hadir di pertemuan HAAJ. Selain Candi Borobudur, Bang Ferry juga membahas proyek yang sedang dijalankan oleh tim Langit Selatan dan beberapa Astronom lain yang dinamakan Folklore. Proyek ini sedang berusaha untuk mengubah penamaan-penamaan rasi bintang dengan penamaan dan gambaran yang lebih dekat hubungannya dengan budaya masyarakat Indonesia. Dan kami semua yang hadir dibuat takjub dengan pemberian gambaran mengenai bentuk rasi bintang yang dikaitkan dengan kebudayaan Indonesia.
Berikut merupakan dokumentasi kegiatan perteuan rutin yang sedang berlangsung.

Suasana pemberian materi mengenai etnoastronomi

Sesi tanya jawab oleh beberapa peserta, pengurus, dan penjelasan dari Bapak Widya Sawitar

Di akhir pertemuan, Kak Irma berbagi pengalaman dengan bercerita mengenai penelitiannya tentang keterkaitan Candi Borobudur dengan Ilmu Astronomi pada saat itu. Selain itu dibahas pula mengenai kepercayaan mengenai terlihatnya bintang polaris dari puncak Candi Borobudur.
 Kak irma saat memberikan penjelasan mengenai penelitiannya
Keterkaitan antara kebudayaan setempat dengan ilmu astronomi yang kita kenal saat ini memiliki keanekaragaman pemahaman dan gambaran dari ilmu astronomi itu sendiri. Saat ini astronom-aastronom di Indonesia terus menjalankan misi untuk melestarikan ilmu astronomi dengan kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam.
-Salam HAAJ





Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *