Pertemuan Rutin

Report Pertemuan Rutin ke-24


Pertemuan rutin ke-24 ini menghadirkan narasumber  yang istimewa. Dr. Hakim L. Malasan, kepala Observatorium Bosscha, yang  akrab disapa dengan Pak Hakim ini memberikan materi mengenai Remote and Mobile Observatory. Sedikit berbeda memang dengan judul materi  yang telah tercantum di jadwal pertemuan rutin. Namun materi ini tidak kalah menarik dengan materi Remote and Mobile Telescope. Bagaimana tidak, Pak Hakim menyampaikan tentang Mobile Observatory yang merupakan hasil rancangan dari putra beliau, Prananda L. Malasan.

Di awal pertemuan, pemateri menyampaikan bahwa rancangan Mobile Observatory yang miniaturnya sudah ada di Observatorium Bosscha ini adalah hasil karya mahasiswa Desain Produk Institut Teknologi Bandung. Sebelum membahas mengenai mobile observatory itu sendiri, Pak Hakim juga menjelaskan apa itu Telescope, Remote Telescope, dan Robotic Telescope. Perbedaannya memang cukup jauh. Namun beliau menyampaikan bahwa untuk astronom amatir memang banyak menggunakan teleskop yang digerakkan secara manual. “Cara ini juga merupakan cara yang paling bagus jika digunakan untuk sarana pendidikan, agar feel-nya lebih dapat,” tutur Pak Hakim.  Remote Telescope itu sendiri adalah teleskop yang digerakkan dengan remote, sehingga dapat dikendalikan dari jarak jauh. Namun remote itu sendiri masih diatur secara manual. Berbeda dengan remote telescope, Robotic Telescope menggunakan teknologi yang lebih canggih. Teleskop digerakkan oleh suatu sistem yang sudah diatur lama pengamatannya untuk jangka waktu yang cukup panjang. Bahkan bisa selama 1 tahun. Jika diatur untuk melakukan pengamatan selama 1 tahun, maka telekop itu akan beroperasi sendiri dan dapat dipantau dari kejauhan. “Hal ini bukan mimpi lagi, tapi memang sudah menjadi kenyataan,” ucap Pak Hakim.

Selanjutnya pemateri menyampaikan tentang Mobile Observatory. Mobile Observatory itu sendiri adalah observatorium kecil yang didalamnya ada peralatan astronomi, diletakkan dalam 1 tempat agar dapat dibawa kemanapun dengan harapan dapat melakukan pengamatan astronomi di daerah-daerah pedalaman. Alat ini juga berguna untuk memasyarakatkan astronomi ke masyarakat yang memang tidak memiliki fasilitas pengamatan astronomi di daerahnya.  Desain yang dirancang oleh putra Pak Hakim dan teman-temannya sangat menakjubkan. Perancangan tersebut memperhitungkan segala aspek untuk kebutuhan pengamatan astronomi termasuk kebutuhan astronom yang akan mengamatinya.

Beberapa pertanyaan juga banyak diajukan oleh beberapa pengurus. Masukan juga diberikan oleh Bapak Widya Sawitar mengenai tentang permodelan dari mobile telescope itu sendiri. Tidak hanya itu, Indra Firdaus juga menanyakan mengenai perkembangan dari Remote Telescope System yang pernah berlangsung di tahun 2008. Berbagai pertanyaan juga diungkapkan oleh beberapa peserta yang datang ke pertemuan pada hari itu.

Semoga materi ini dapat terus mengembangkan pemikiran kami semua yang hadir untuk terus mencari informasi mengenai perkembangan dari Remote and Mobile Telescope/Observatory.
Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, pertemuan terakhir di tahun 2011.
– Salam HAAJ


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *