Astronomy News

ASTEROID SI PLANET KECIL – Edisi 2 –


ASTEROID
SI PLANET KECIL
– Edisi 2 –
Sumber Gambar : http://astrosun2.astro.cornell.edu
Penamaan Asteroid
Awal penamaan yang berlaku sejak 1 Januari 1925 adalah berdasar urutan tanggal ditemukan dan diberi label tahun dan abjad. Misal antara 1 – 15 Januari 2006 dinamakan: 2006AA, 2006AB, …, 2006AZ, 2006AA1, dst. Penemuan tanggal 16 – 31 Januari 2006: 2006BA, 2006BB, dst. Sampai pada tahun yang sama, tanggal 16 – 31 Desember diberi nama: 2006YA, 2006YB, dst. Awalnya J dan Z tidak digunakan, lalu kini hanya I yang tidak digunakan (pen.: maaf belum dapat alasannya). Setelah jelas identitasnya yang biasanya diteliti ulang setelah ditemukan lagi di jalur lintasan yang telah dihitung, baru diberi nama dengan angka tertentu. Misal Ceres diidentifikasi dengan 1 Ceres, Pallas ditulis 2 Pallas, dst. Tentang nama khusus, biasanya diberi nama feminin dan ditemukan dalam mitologi.
Dalam beberapa kasus tidak selalu diberi nama dengan cara demikian. Bahkan awalnya sempat membingungkan dalam mencapai kesepakatan ini, karena sang penemu terkadang mengusulkan nama sesuai dengan keinginannya yang terkait misalnya dengan nama pahlawan politiknya, temannya, bahkan nama binatang kesayangannya. Semisal asteroid 724 Hapag (akronim garis navigasi Hamburg-America-Paketfarht-Aktien-Gesellschaft), atau 694 Ekard (Ekard adalah ejaan terbalik dari Drake, diberikan oleh team dari Drake University). Tahun 1900, pusat data asteroid dikembangkan di Berlin dan Kiel.
Montage of nine views of Eros. Sumber : NSSDC Photo Gallery
Pemeriksaan ulang senantiasa dibutuhkan. Semisal tahun 1939 ditemukan 398 asteroid, namun 159 diantaranya menghilang sebelum datanya lengkap. Beberapa mungkin ditemukan lagi, namun dapat terjadi dengan identitas berbeda. Namun, beberapa diantaranya ternyata ditemukan kembali. Sejak saat itu, pendataan dilakukan serentak oleh team di Heidelberg, Leningrad, dan Berlin. Pendataan di Berlin dipindahkan ke Smithsonian Astrophysical Observatory di Cincinnati yang dipimpin oleh direkturnya, P. Herget. Hasil mereka dipublikasikan dalam katalog tahunan oleh Institute of Theoretical Astronomy – Leningrad dan sejak tahun 1978 bergabung dengan Minor Planet Center yang berkedudukan Cincinnati Observatory (Cambridge – Massachusetts), yang berada di bawah naungan International Astronomical Union (IAU).
Dengan tambahan data dari Observatorium McDonald (Yerkes-McDonald Survey dipelopori oleh Kuiper – yang terkenal dengan teori pembentukan Tata Surya.) dan dari Observatorium Mount Palomar yang bekerjasama dengan Leiden Observatory (katalognya disebut Palomar – Leiden Survey, atau dalam identifikasi asteroid dengan abjad P-L semisal 1812 Gilgamesh sama dengan 4645 P-L, atau 1813 Imhotep = 7589 P-L), tahun 1979 sudah 2.125 asteroid didata akurat dan dibuat katalognya. Sebanyak 80% ditaksir berdiameter lebih dari 1 km. Sementara taksiran dari data survey Observatorium McDonald dan Palomar-Leiden sampai tahun 1960 sudah sekitar 500.000 asteroid. Namun, tentu saja pekerjaan pendataan bukanlah hal yang mudah. Memang semakin relatif mudah menemukannya, namun identifikasi dalam data khususnya elemen orbitnya yang tidaklah sederhana.
Sejak 1978 di Minor Planet Center yang dipelopori Brian Marsden, setiap tahunnya berhasil mendata cermat rata-rata 100 asteroid. Sementara hasil pendataan ini diperlancar lagi dengan adanya team dari Crimean Astrophysical Observatory yang dapat melacak dan meneliti rata-rata 700 asteroid per tahun. Tahun 1990 yang sudah dimasukkan di katalog mencapai lebih dari 5.000 asteroid. Saat ini penelitian terhadap asteroid tidak hanya penelitian landas Bumi, melainkan telah menggunakan penelitian berbasis wahana antariksa seperti penggunaan Infrared Astronomical Satellite (IRAS), Hubble Space Telescope (HST), Galileo, Near Earth Asteroid Rendezvous (NEAR-Shoemaker, yang bahkan sudah mendarat di asteroid 433 Eros: 33 km; mengorbit 14 Februari 2000, mendarat 12 Februari 2001), dsb.

Daftar 10 Asteroid Terbesar:
2 Pallas (diameter 608 km, ditemukan tahun 1802), 4 Vesta (538 km, 1807), 10 Hygiea (450 km, 1849), 31 Euphrosyne (370 km, 1854), 704 Interamnia (350 km, 1910), 511 Davida (323 km, 1903), 65 Cybele (309 km, 1861), 52 Europa (289 km, 1858), 3 Juno (288 km, 1804), 87 Sylvia (282 km, 1866).

All asteroids and comets visited by spacecraft as of November 2010
Credits: Montage by Emily Lakdawalla. Ida, Dactyl, Braille, Annefrank, Gaspra, Borrelly: NASA / JPL / Ted Stryk. Steins: ESA / OSIRIS team. Eros: NASA / JHUAPL. Itokawa: ISAS / JAXA / Emily Lakdawalla. Mathilde: NASA / JHUAPL / Ted Stryk. Lutetia: ESA / OSIRIS team / Emily Lakdawalla. Halley: Russian Academy of Sciences / Ted Stryk. Tempel 1, Hartley 2: NASA / JPL / UMD. Wild 2: NASA / JPL.
Geometri Asteroid
Bentuk asteroid praktis tidak beraturan, termasuk permukaannya. Namun demikian secara unik ada juga yang berbentuk bola (sferis) semisal Ceres, Pallas, dan Vesta. Ada pula yang ellipsoidal dan sangat lonjong seperti 15 Eunomia, 107 Camilla, dan 511 Davida. Ada lagi keunikan bentuk seperti halter atau juga layaknya 2 asteroid menjadi satu seperti 4769 Castalia, 216 Kleopatra, dan 4179 Toutatis.
    Interaksi antar asteroid turut membentuk wajah asteroid itu sendiri. Contoh terakhir bulan Mei 2011 adalah tabrakan antara 596 Scheila dengan asteroid berdiameter 30,5 km yang direkam teleskop Hubble. Hujan meteor pun secara periodik dapat terkait dengan asteroid semisal Geminids Meteor Shower yang terkait dengan 3200 Phaeton yang ditemukan berlandas satelit infra merah IRAS tahun 1983. Diameternya hanya sekitar 5 km, dengan perihelion 0,140 s.a. (dalam orbit Merkurius) dan aphelion 2,403 s.a. (Sabuk Asteroid). Orbitnya ellips yang sangat lonjong (eksentrisitas 0,890). Sifatnya menyerupai komet. Proses fisik ini tentu mempengaruhi wajah asteroid. Bila unsurnya termasuk mudah terurai, maka interaksi dan proses seperti 3200 Phaeton akan semakin sering wajahnya berubah bahkan hancur.
Ukuran Asteroid. Sumber : NASA
Satelit
Bulan adalah satelit alam milik Bumi. Sistem planet dan satelit sudah diketahui. Tapi ternyata asteroid pun ada yang punya satelit. Sebagai contoh adalah:
243 Ida (satelitnya Baby Ida atau Dactyl, 1,6×1,4×1,2 km, 1993, ditemukan via satelit Galileo), 45 Eugenia (satelitnya Petit-Prince, 13 km, 1998, yang pertama ditemukan dengan teleskop landas Bumi), 87 Sylvia (Remus – 2001 dan Remulus – 2004). Lainnya seperti 532 Herculina, 3671 Dionysus (S/1997 (3671) 1), 762 Pulcova, 1996 FG3, 2000 DP107. Yang unik adalah 90 Antiope yang merupakan asteroid ganda yang pertama ditemukan, masing-masing 85 km dengan jarak 170 km dan periode orbit 16,5 jam, juga 1620 Geographos. Ataupun pada kasus ganda-kontak semisal 4769 Castalia dan 4179 Toutatis (lihat geometri asteroid).
Asteroid Ida dan Satelitnya “Dactyl”. Sumber: NSSDC Photo Gallery

 Unsur Penyusun dan Klasifikasi   
Penelitian berbasis spektrum terhadap unsur asteroid telah dilakukan sejak dulu terlebih saat teknologi fotografi mulai diperkenalkan. Secara terpadu hal ini dilakukan sejak Bobrovnikoff tahun 1929. Pekerjaan ini (taxonomy) menghasilkan adanya klasifikasi asteroid dan sering disinkronkan berdasar keterkaitannya dengan meteorit.
Awal 1975, Clark R. Chapman (Planetary Science Institute – Amerika Serikat) memperkenalkan 2 tipe utama asteroid berdasar unsurnya. Pertama adalah tipe C (hampir semua asteroid di Sabuk Asteroid, contoh 10 Hygeia, 253 Mathilde). Hanya 3 hingga 9% saja cahaya Matahari yang diterima dipantulkan kembali (albedonya). Unsur utamanya karbon (carbonaceous chondrites), sangat gelap dan mengandung materi yang mudah menguap.
Perkembangan klasifikasi selanjutnya dalam kelompok C ini (lebih karena tingkat berkurangnya komposisi unsur air atau H2O, mirip C atau C-like material), yaitu tipe B (albedo 4 – 8%. Contoh: 2 Pallas, 379 Huenna – 62 km, 431 Nephele – 78 km), G (albedo 5 – 9%, Sifatnya berdaya serap tinggi terhadap radiasi ultraviolet.), dan F (albedo 3 – 7%, terkait kuat tidaknya interaksi dengan pancaran ultraviolet. Contoh: 44 Nysa dari keluarga Nysa-Polana, 135 Hertha, 142 Polana). Namun dalam kasus ini 44 Nysa biasa digolongkan sebagai tipe E, sementara 135 Hertha termasuk tipe M. Yang dekat klasifikasi ini adalah tipe P (albedo 2 – 6%) dan D (warna lebih merah) dan ditemukan di Sabuk Asteroid  bagian terjauh dari Matahari. Contoh tipe P adalah 87 Sylvia. Tipe D biasanya berwarna sangat merah dan albedonya rendah sekali 2 – 5% dan banyak dijumpai materi organik serta berusia setara dengan pembentukan Tata Surya. Hampir tidak ada di sabuk utama. Umumnya pada jarak 3,3 s.a. (di luar sabuk utama – di antara sabuk dan Jupiter). Contoh: Hektor (Asteroid Trojan), Phobos – Deimos (satelitnya planet Mars), dan meteorit Danau Targish.
Kedua adalah tipe S (silicaceous) dengan albedo 10 – 28% dengan warna agak kemerahan. Tersusun atas unsur silikat: stony-iron, campuran batuan – besi. Banyak dijumpai unsur olivine dan pyroxene (banyak pada basalt). Umum ditemui di bagian sabuk dalam Sabuk Asteroid. Makin jauh dari Matahari semakin sedikit. Contoh anggotanya 3 Juno, 6 Hebe, 7 Iris,  951 Gaspra, 243 Ida, 29 Amphitrite (219 km, termasuk keluarga Eunomia).
Selain 2 tipe utama di atas (±80% total asteroid), ada pula tipe A yang unsurnya mirip tipe S yang cenderung berwarna merah dengan albedo 13 – 35%. Banyak dijumpai olivine (Mg2SiO4 dan Fe2SiO4). Contoh: 246 Asporina (70 km) dan 446 Aeternotas (52 km).
Juga tipe M (metal) dengan albedo menengah, namun unsur yang dominan bahkan seluruhnya adalah murni logam (besi dan nikel). Sangat terang. Contohnya 16 Psyche (248 km), 55 Pandora, dan 92 Undina.
Juga ada tipe E (enstatite, tidak ada unsur besi; mirip tipe R, miskin unsur besi). Sifat albedonya besar, 53 – 63%, permukaan kemerahan namun intinya cerah/putih. Contoh tipe ini 3103 Eger (1982BB), juga keluarga Hungaria yang kebanyakan anggotanya tipe ini. Sangat jarang dijumpai. Materi seperti diketahui ketika tahun 1836 di Nyons Perancis jatuh meteor (Aubres meteorite). Oleh sebab itu biasa dikaitkan dengan meteorit tipe aubrite (enstatite achondrite yang miskin kalsium namun dominan silicate orthopyroxene enstatite). Eger diketahui sebagai satu-satunya Nearth-Earth Asteroid tipe E. Sementara itu ±10% asteroid memang tidak dapat dikelompokkan, disebut tipe U (Unclassified). Dalam kasus tertentu, ada yang menunjukkan ragam karakter dan digolongkan secara beragam pula. Semisal asteroid 4 Vesta yang dikategorikan tipe U. Atau cukup jelas, namun sulit dikategorikan semisal asteroid 210 Isabella yang diklasifikasikan sebagai CMEU.
Ragam tipe ini dapat dikaitkan dengan lokasi asteroid ke Matahari. Sabuk terdekat didominasi tipe E. Pada jarak 1/3 bagian sabuk utama, didominasi tipe S. Sementara 2/3 selebihnya didominasi tipe C dan ada kecenderungan bahwa makin jauh semakin dominan asteroid tipe ini. Asteroid Trojan pada umumnya tipe D. Sampai akhirnya timbul dugaan bahwa distribusi komposisi ini berkait dengan saat kondensasi materi pembentuk Tata Surya.
Terkait pula dengan unsur ini adalah bentuk asteroid yang sebagiannya praktis tidak beraturan (Faktor keras lunaknya bagian mantel juga interaksi antar asteroid itu sendiri). Berbeda dengan planet yang mirip bola. Bentuk mereka umumnya seperti kentang atau batuan raksasa yang ujudnya tidak teratur dan permukaannya mirip Bulan yang berkawah. Ragam wajah asteroid makin diketahui saat penelitian intensif dilakukan dengan wahana antariksa seperti Galileo yang diluncurkan Oktober 1989 dan berjumpa asteroid Gaspra Oktober 1991 dan Ida Agustus 1993; NEAR-Shoemaker, 1996 – 2002 dengan misi terakhir mendarat di asteroid Eros, Deep Space 1 (2001), dan Stardust (1999 – 2002). Teleskop angkasa Hubble pun masih terus membantu pelacakannya, dan salah satunya adalah kerjasama dengan wahana Swift milik NASA terhadap asteroid 596 Scheila (113 km, 2,9 – 3,1 s.a, periode 5). Asteroid ini bertabrakan pada bulan Mei 2011 dengan asteroid yang diperkirakan bergaristengah 30,5 meter. Dari analisis data, ditaksir sekitar 660.000 ton partikel kecil dan debu berhamburan karenanya. Kembali dalam masalah bentuk asteroid, nyatanya peristiwa tabrakan antar asteroid kerap terjadi. Ini pula yang menyebabkan wajahnya yang umumnya tidak beraturan atau penuh kawah.

Barringer Crater on Eart. Sumber: APOD

Yang menarik adalah meteor yang jatuh dan meledak pada hari Minggu pagi di atas Murchison, dekat Melbourne – 400 km utara Perth – Victoria, Australia, 28 September 1969. Analisisnya menghasilkan kesimpulan bahwa meteoroidnya adalah sebuah asteroid yang tergolong berasal dari sabuk utama. Tipenya C, ber-aroma layaknya methanol, yang mengindikasikan terbentuk dari materi organik (telaah Miller-Urey Experiment). Dari penelitian tersebut ditemukan 6 macam asam amino yang terkait dengan protein yang selama ini dikenal (glycine, alanine, valine, proline, aspartic acid, glutamic acid), namun 12 lainnya tidak pernah ditemukan di Bumi (alpha-amino-N-butyric acid, alpha-aminoisobutyric acid, norvaline, isovaline, pipecolid acid, beta-alanine, beta-amino-N-butyric acid, beta-aminoisobutyric acid, gamma-aminobutyric acid, sarcosine, N-ethylglysine, N-methylalanine). Tentu hal semacam ini jadi tantangan bagi para ahli astrobiology (pen.: bagi mahasiswa jurusan biologi dapat menjadi bahan penelitian). Hal ini mengingatkan pada meteorit yang dinyatakan dari Mars bahkan salah satunya yang disebut ALH84001 mengundang kontroversi tahun 1996. Meteorit ini ditaksir berusia 4 milyar tahun dan konon ditemukan struktur kristal yang diduga kuat adalah fosil bakteria. Mereka tergolong kelompok SNC (Shergottites-Nakhlites-Chassignites).
Pada tahun 1989, David Tholen (Amerika Serikat) dan Maria Barruci (Italia) mengusulkan  14 klasifikasi (taxonomy) asteroid, yaitu tipe A, B, C, D, E, F, G, M, P, Q, R, S, T, V. Hal ini dikaitkan bahwa kebanyakan meteorit berasal dari asteroid. Klasifikasinya dikaitkan dengan telaah klasifikasi meteorit pula. Namun demikian, klasifikasi Tholen-Barruci belum diterima secara luas hingga kini. Adapun penelitian tentang meteorit yang terkait asteroid, bahwa meteorit tipe batuan (stony meteorites – aerolit), 94% berunsur sangat sedikit logam dan terkait dengan asteroid batuan (stony asteroids) dan diperkirakan berasal dari bagian mantel asteroid tersebut. Bagian 5% lainnya adalah meteorit logam (iron meteorites – siderite) yang berasal dari inti asteroid, 1% lagi adalah stony-iron meteorites (siderolit/litosiderit).
Pekerjaan pengklasifikasian ini juga terbantu dengan adanya IRAS Minor Planet Survey Data Base yang bekerja sejak tahun 1983 (berlandas panjang gelombang infra merah). Lainnya seperti The Uppsala Asteroid Data Base (Uppsala Astronomical Observatory – Swedia; bersama Perancis, Ukraina, dan Italia), dll. Beberapa team yang menggunakan sistem pelacak otomatis diantaranya adalah (pen.: dapat lihat di Wikipedia):
•    The Lincoln Near-Earth Asteroid Research (LINEAR)
•    The Near-Earth Asteroid Tracking (NEAT)
•    Spacewatch
•    The Lowell Observatory Near-Earth-Object Search (LONEOS)
•    The Catalina Sky Survey (CSS)
•    The Campo Imperatore Near-Earth Objects Survey (CINEOS)
•    The Japanese Spaceguard Association
•    The Asiago-DLR Asteroid Survey (ADAS)
The LINEAR system hingga bulan Maret 2011 telah menemukan dan mendata 121,346 asteroid baru. Dari semua team di atas, berhasil ditemukan 4711 Near-Earth Asteroids padamana 600 asteroid berdiameter lebih dari 1 km. Semoga senantiasa kategori “near” saja sebagai pemeriah wajah langit malam, tidak sampai “touch down” berkenalan dengan kita semua.

Salam WS
Moga2 tulisan yang bersifat refreshing ini dapat membuat anda makin nyenyak untuk tidur .. Sip.
Oya, tidak terasa bagi yang kelas XII bentar lagi memasuki gelanggang ujian. Yaudah, .. Met belajar. Cari2 info tentang Perguruan Tinggi dari sekarang kalau anda ingin meneruskan studinya. Maaf kalau saya cuma bisa bantu doa aja ya.
Termasuk kelas X dan XI yang mau ikutan menyemarakkan olimpiade astro menuju OSN, kakak2 di FPA silakan digangguin .. hihi.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *