Tata Surya

Sekilas Cerita Pertemuan Rutin Ke-7 HAAJ – Edisi 2013


Laporan Pertemuan Rutin ke-7
Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
 
Menjelajah Tata Surya
Pemateri “Menjelajah Tata Surya” : Helmi Romdhoni. (Sumber: HAAJ)
Pada hari sabtu, 23 Maret 2013 seperti biasa Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) kembali mengadakan pertemuan rutin dwimingguan. Materi kali ini memiliki tema yang sangat menarik yakni “Menjelajah Tata Surya”. Bisakah kita? Jelas bisa, meskipun kita masih diam duduk di ruang pertemuan, namun nuansa penjelajahan akan mampu dirasakan oleh semua peserta yang hadir pada pertemuan rutin kali ini dengan suguhan gambar-gambar luar biasa yang dihadirkan oleh pemateri. Materi yang disampaikan oleh saudara Helmi Romdhoni yang juga merupakan pengurus HAAJ, menjelaskan tentang dasar-dasar pengetahuan Tata Surya, yang tidak lain merupakan tempat tinggal dari bumi yang kini, kita tempati. Pemateri menjelaskan mengenai kehadiran berbagai benda langit di tata surya kita. Ternyata, bukan hanya planet, tapi bintang (Matahari) sampai bebatuan ruang angkasa pun kerap meramaikan kehidupan luar angkasa. Semua saling berkesinambungan, beraturan, berada dalam suatu sistem yang kita sebut dengan Tata Surya.
Mulanya, pemateri menjelaskan garis besar tentang kehadiran teori Geosentris yang menganggap bahwa bumi adalah pusat tata surya, yang kemudian mengalami perubahan anggapan sampai saat ini ke teori Heliosentris, yakni teori yang menyatakan semua planet- termasuk bumi – bergerak mengitari matahari. Selanjutnya, pemateri juga menjelaskan kehadiran 8 planet yang berada di tata surya, tanpa memasukkan Pluto ke dalam bagian planet besar di tata surya. Termasuk keadaan atmosfer dan satelit yang dimilki masing-masing planet. Seperti Bumi, yang kita tahu memiliki bulan sebagai satelit alaminya.
Suasana Pertemuan Rutik Ke-7 di Ruang Multimedia. (Sumber: HAAJ)

Bertambah spesial pada pertemuan rutin kali ini, karena bukan hanya bertemakan tentang penjelajahan di tata surya, tepat hari ini pukul 23 Maret 2013 juga merupakan penjelajahan Earth Hour di seluruh dunia. Apa itu Earth Hour? yakni gerakan pemadaman lampu yang tidak di perlukan selama satu jam. Satu jam, untuk menyelamatkan Bumi yang semakin terkikis dengan isu pemanasan global. Dan semakin meriah karena HAAJ ikut berpartisipasi dalam perayaan Earth Hour yang dilaksanakan di dua tempat sekaligus di Jakarta, yakni fX Senayan dan Tugu Proklamasi, sehingga Penjelajahan kita di tata surya hanya di batasi hingga pukul 18.00 WIB, karena secara teknis, HAAJ akan melakukan pengamatan langit malam secara langsung di kedua tempat tersebut.

Dalam pemaparannya, Helmi juga menjelaskan kehidupan di tata surya layaknya makhluk hidup, yaitu memiliki batas akhir kehidupan. Dengan kata lain tata surya akan mengalami akhir kehidupannya atau yang kita kenal dengan kiamat Tata Surya. Kapan hal itu terjadi? Wallahualam, tidak ada manusia yang bisa memprediksinya.
Selanjutnya, masuk ke sesi tanya jawab. Kali ini moderator membuka 2 sesi dengan satu sesi diberikan kesempatan kepada 3 orang penanya. Suasana penjelajahan nampaknya cukup hangat dirasakan oleh seluruh peserta, hal ini terlihat dari antusiasme para peserta yang bertanya mengenai materi yang di paparkan oleh Helmi. Pada akhir sesi tanya jawab, tak urung pak Wied juga turut melengkapi jawaban atas pertanyaan peserta.

eRn si “Astronom Cilik” yang bertanya saat sesi tanya-jawab.
(Sumber: HAAJ)
 Menjelang detik di tutupnya materi hari ini, seorang astronom kecil tetiba datang menghampiri moderator dan meminta diberi kesempatan bertanya. Pun, akhirnya moderator kembali membuka sesi tanya jawab. Cecha dan Atala, pertanyaan dari mereka cukup sederhana, namun membuat pemateri cukup bingung dalam menjawab karena harus menyesuaikan tingkat pembicaraan agar mereka mengerti akan jawaban pemateri. Suasana menjadi cukup riuh dengan kecerdasan para calon astronom kecil ini dalam memahami jawaban pemateri.
 
Secara praktis, kegiatan pertemuan rutin berjalan lancar. Kehadiran sosok astronom kecil ini juga cukup menyadarkan kita, bahwa mereka (anak-anak) harus dikenalkan dengan dunia pengetahuan sejak dini. Mereka lah cikal bakal calon ilmuwan Indonesia. Mari ciptakan masyarakat sadar IPTEK.

Salam Astro,

Vela ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.