Pulau Seribu

Part 2 | Cerita Perjalanan Star Party 2, Pulau Pari 7-9 Juni 2013


Sesi Foto terakhir sebelum kembali kerumah masing-masing. Kredit : Reza
  • Cerita Perjalanan dari Aidell Fitri
Aidell Fitri (Kanan)
Memburu Jejak Bintang di Pulau Pari
Yuhuu, setelah lolos tahap seleksi workplan, akhirnya saya bisa ikut kegiatan star party bersama Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) di Pulau Pari. Kamis siang tanggal 6 Juni (hari yang ditunggu-tunggu), semua perlengkapan perjalanan seperti logistik, baju, notebook, peta bintang dan kamera, sudah tersusun rapi dalam backpack dan siap dibawa berpetualang. Setelah magrib, petualangan dari Bogor menuju markas HAAJ di planetarium Jakarta dimulai. Malam itu langit Jakarta lumayan cerah, jadi setelah sampai di planetarium, saya dan beberapa peserta lain ditemani pengurus HAAJ mencuri start memotret rasi bintang yang terlihat dari atas “loteng planetarium”. Malam itu kami terjaga sampai pukul 2 pagi karena masih harus menyelesaikan bola-bola “planet” yang akan digunakan untuk workshop.
Pukul 4 pagi kami bangun, dan masih dalam kondisi ngantuk semua kru Star Party bersiap-siap untuk pergi ke Muara angke. Personil bertambah dengan kehadiran keluarga Husayn– peserta yang workplannya lolos seleksi. Rombongan sempat terpisah menjadi 2 grup ketika naik busway, tetapi akhirnya semua sampai di lokasi keberangkatan dengan selamat. Di muara angke peserta lain yang berangkat dari rumah sudah menunggu. Ada keluarga Ceca + Bibby dan keluarga Atala. Walaupun usia mereka masih muda (antara 5-8 tahun), tetapi semangat mereka untuk mengikuti kegiatan Star Party sangat besar.
Belajar Astrofotografi. Kredit : Aidell
Untuk sampai di Pulau Pari, kami naik kapal selama 1,5 jam dengan harga tiket yang relatif murah ala backpacker – hanya Rp 30.000. Perjalanan dengan kapal ini sangat menyenangkan. Bau busuk muara angke mulai tidak tercium, air laut yang cokelat berubah jadi kebiruan, dan gedung-gedung tinggi kota Jakarta perlahan menghilang. Dalam perjalanan semua memiliki kegiatan yang bisa mengusir kebosanan. Anak-anak antusias mendengarkan cerita Rayhan, peserta yang lebih dewasa asik berkenalan satu sama lain sambil menikmati keindahan laut. Tapi semuanya pasti tidak sabar menjejakkan kaki di pulau Pari
Sesampainya di Darmaga Pulau Pari kami menurunkan barang lalu mengangkutnya dengan gerobak menuju homestay. Homestay yang kami tempati tidak jauh dari darmaga dan lapangan yang menjadi tempat berburu bintang nanti. Setelah beres-beres, Mbak Raken (Bundanya Ceca dan Bibby) mengeluarkan 1 dus popmie untuk dinikmati bersama. Ini adalah nazarnya Bibby. Kalau Bibby kepilih ikut star party, Bibby mau bawa popmie satu dus, soalnya harga popmie di tempat wisata mahal-mahal. Ah Bibby, you’re so innocent and cute!!
Setelah istirahat dan shalat Jum’at, pukul 2 siang semua peserta dan pengurus HAAJ mengunjungi SD + SMP Negeri Satu Atap 01 Pulau Pari. Di sekolah ini kami mengadakan workshop mengenai astronomi. Kegiatan dimulai dengan pemberian materi oleh “Pendongeng Langit” handal HAAJ, lalu diteruskan dengan membuat model tata surya dengan bola-bola yang sudah disiapkan sebelumnya. Semua peserta sangat antusias, mereka mencocokkan warna planet yang telah “didongengkan” sebelumnya dengan lilin yang mereka gunakan untuk menyelimuti bola-bola. Salah satu peserta yang menghias planet bumi bahkan membuat pulau-pulau yang ada di Indonesia pada bola miliknya.
Workshop Pembuatan Miniatur Planet bersama SD Satu Atap Pulau Pari. Kredit : Aidell
Pengamatan Matahari bersama setelah Workshop Miniatur Planet. Kredit : Aidell
Kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan matahari dan pengamatan benda langit pada malam harinya. Pukul 20.00, anak SD Satu Atap 01 berkumpul di pekarangan sekolah. Pengurus HAAJ sibuk mempersiapkan dua teleskop yang akan digunakan untuk pengamatan. Waktu itu sudah mulai banyak bintang yang terlihat, namun terkadang masih ada saja awan nakal yang menutupi mereka. Kegiatan bersama di SD selesai pukul 22.00, setelah itu kami pulang dan beristirahat untuk persiapan pengamatan malam selanjutnya.
Pukul 01.00, semua bangun dan berangkat ke lapangan di belakang homestay. Di lapangan itu langit bisa terlihat lebih jelas dan luaaaas karena tidak ada gedung yang menghalangi bidang pandang. Alas duduk mulai kami gelar, tenda mulai didirikan, peralatan mulai dikeluarkan, dan YES langitnya lebih cerah dari sebelumnya. Bahkan milkyway bisa terlihat dengan jelas. Saking banyaknya bintang di langit waktu itu, sampai bingung mau motret yang mana dulu, haha. Tapi duduk bersama di bawah jutaan bintang seperti itu sangat sangat menambah kekayaan spiritual. Seperti berkontemplasi dengan alam, lalu sadar bahwa kita hanya setitik debu tidak berarti di jagat raya ini (mengkopi kata-kata azis, hehe). Yah begitulah kira-kira.
Kegiatan hari kedua adalah jalan-jalan di pantai pada pagi hari (sambil berburu foto sunrise), pengamatan matahari di waktu siang, mengolah foto di sore hari dan kegiatan suka-suka di waktu senggang :P. Pengamatan matahari dilakukan di depan homestay dengan teleskop Vixen. Ada beberapa instrumen teleskop yang membedakan pengamatan matahari dengan pengamatan benda langit di waktu malam. Ketika mengamati matahari, kita membutuhkan filter karena sinar UV matahari tidak boleh langsung mengenai mata. Selain itu, kita tidak membutuhkan finder (teleskop dengan perbesaran kecil) yang biasa digunakan untuk mengamati bintang pada malam hari.
Hasil belajar Astrofotografi. Galaksi Bimasakti
Hasil Astrofotografi Matahari
Setelah puas menjemur diri bersama teleskop di bawah matahari yang panasnya minta ampun, kami bersantai. Pak Wid dan beberapa teman yang lain pergi memancing, ada yang pergi berjalan-jalan ke pantai LIPI, dan sisanya tinggal di homestay. Sore hari, kami berencana melihat sunset di pantai, sekalian pengamatan planet. Perlengkapan pengamatan dimasukkan ke dalam gerobak lalu diangkut ke pantai. Tapi ternyata awan tebal menutupi matahari. Langit mendung!!! Dan pada akhirnya kami hanya mengobrol sambil mengerjai Bibby yang phobia kepiting. Lucu sekali melihat ekspresi anak-anak yang polos dan natural.
Mendung terus berlanjut sampai malam. Sambil menunggu dan berharap langit menjadi cerah, kami berkumpul di homestay. Atala bermain biola yang dia bawa dari Jakarta, lagu Twinkle Twinkle Little Star. Senang rasanya bisa bertemu dengan anak-anak berbakat seperti Atala cs. Setelah puas main-main kami belajar teknik pengolahan citra astrofotografi. Reyhan mengajarkan teknik stacking/menumpuk foto, mengedit foto dengan adobe Photoshop, dan sedikit teknik pembuatan time-lapse. Setelah diskusi selesai, langit masih mendung, bahkan sempat gerimis. Akhirnya pengamatan malam kedua gagal dilakukan.
Hari terakhir di Pulau Pari terasa berat karena harus kembali ke rutinitas masing-masing. Setelah dzuhur kami pulang dengan kapal. Ada banyak pelajaran dan pengalaman yang didapat dari kegiatan ini. Melakukan perjalanan ke tempat asing, berkenalan dengan kawan baru, bertukar pikiran dll. Hal tersebut bisa menambah kapasitas keilmuan dan pengalaman kita, sehingga kita bisa menjadi manusia yang benar-benar “manusia”. Terimakasih untuk kawan-kawan HAAJ, Rizka, Faiqoh, Ihsan, dan 5 fabulous boys- Atala, Bibby, Ceca, Husayn, Ali- ples ayah bundanya. Aaaaaah You Made My Day!!! I hope we can meet again in Bosscha.
Aidell

Organized by :
Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
d/a Planetarium dan Observatorium Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73
Jakarta Pusat

Twitter : @haaj84
Facebook : Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
Contact Person :
Humas : Indra Firdaus (+6281905542205)
Pin BB : 2A6C8024


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.