Pertemuan Rutin

Pertemuan Rutin ke-6 2014, Penjelajah Kecil Tata Surya


Pertemuan Rutin Dwimingguan

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ)

edisi Keenam tahun 2014

GreatComet1680_verschuier_681Ilustrasi Komet pada tahun 1680 di Rotterdam. Kredit : APOD

Saat langit malam penuh bintang, terkadang kita melihat seberkas cahaya seolah-olah seperti bintang jatuh. Arahnya sukar ditebak dan muncul sembarang waktu bahkan suka berbarengan, penampakannya sangat singkat dan oleh banyak orang selalu disebut bintang hantu. Bintang langit ini tak lain adalah Meteor yang keberadaannya diketahui sejak tahun 1803 pada saat perancis terjadi hujan meteor.

Meteor terdiri dari materi debu dan beraneka macam bentuk serta ukurannya. Jumlahnyapun mencapai triliyunan di antariksa. planet yang dilintasi oleh meteor secara otomatis akan mendekati planet tersebut kerena adanya gaya grafitasi yang diberikan oleh planet. Bila meteor itu akan masuk ke suatu planet, meteor terlebih dahulu akan bergesekan dengan atmosfer lalu terbakar. Umumnya di bumi, meteor akan berpijar pada ketinggian 50 – 150 Km. Saat terbakar itulah disebut meteor dan calon meteor disebut meteorid.

Apabila meteor tidak habis terbakar karena bergesekan dengan atmosfer, maka sisanya yang masuk ke planet dinamakan meteorit. Di Bumi terdapat beberapa lokasi tempat dimana meteor jatuh, misal di Hoba-Afrika (60 ton), Greenland (36 ton), bahkan di Indonesia terdapat beberapa yang cukup besar. Akibat jatuhnya meteor, terbentuk suatu kawah yang besar seperti yang terjadi di Arizona-Amerika Serikat (kawah Barringer) karena memang kecepatan jatuhnya meteor tersebut sangat cepat bahkan bisa mencapai 60 Km/s.

Berdasarkan penelitian, meteorid berasal dari materi antar planet, bulan, mars, komet dsb. Kini diketahui unsur pembentukan meteorid umumnya terdiri dari batuan silikat (jenis aerolit), logam (siderit), atau campuran (siderit/litoserit). Dan paling banyak kandungannya adalah jenis aerolit, 61 %.

Pada waktu tertentu dan secara berkala tiap tahun, terjadi fenomena hujan meteor. Biasanya arah datang dari satu titik (titik radian) akibat perspektif, diibaratkan apabila kita melihat rel kereta api dikejauhan, meteor pun seperti itu. Selain meteor penjelajah tatasurya lainnya yaitu Asteroid dan Komet.

Pada pertemuan kali ini kita belajar mengenai Penjelajah Kecil Tata Surya
Judul Materi : Penjelajah Kecil Tata Surya
Narasumber : Tri Agung
Waktu : Sabtu, 5 April 2014, Mulai pukul 16.00 – 20.00 WIB
Tempat : Ruang Kelas Lt. 2, Gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta.
Alamat: Jln. Cikini Raya no: 73. Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat.

Catatan:
* Bagi yang berminat, silahkan langsung datang ke lokasi dengan waktu yang telah disebutkan.
* Pertemuan Rutin ini terbuka untuk Umum, Gratis, Hanya dibebankan untuk membayar Handout Presentasi.
* Jika langit memungkinkan, setelah pertemuan akan diadakan peneropongan benda langit dengan menggunakan teleskop astronomi.

Organized by :
30th Anniversary [2000p x 1067p - white background] - Copy

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
d/a Planetarium dan Observatorium Jakarta
Jalan Cikini Raya No. 73
Jakarta Pusat

Twitter : @haaj84
Facebook : Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
Email : humas.haaj84@gmail.com

Contact Person :
1. Indra Firdaus (Ketua Umum ) : 08999345351
2. Ronny Syamara (Koordinator Kegiatan) : 081319047958
3. Ahmad Zulfahmi (Humas) : 085710897108


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.