Astronomy News

Teori Geosentris Vs Teori Heliosentris


Pada era modern, perkembangan ilmu astronomi sudah maju. Seiring dengan banyaknya penemuan-penemuan terbaru membuat ilmu astronomi semakin  dinamis. Teori-teori mengenai jagad raya, khususnya tata surya selalu terus diuji kevaliditasannya. Salah satunya teori Geosentris yang dipopulerkan oleh seorang ilmuwan Yunani bernama Ptolemy. Teori ini banyak yang mempercayainya, pun ada juga yang menepisnya.

Dulu, Para ahli astronomi mengira Bumi adalah pusat tata surya, bahkan beberapa diantaranya mengira bumi adalah pusat alam semesta. Semua benda langit seperti matahari, bulan, bintang dan planet bergerak mengitari Bumi. Pandangan ini dikenal dengan teori Geosentris.

Teori Geosentris. Via Istimewa

Geosentrisme atau disebut teori Geosentrik, model Geosentrik (bahasa Inggris: geocentric model atau geocentrism, Ptolemaic system) merupakan istilah astronomi yang menggambarkan alam semesta dengan Bumi sebagai pusatnya dan pusat pergerakan semua benda-benda langit. Dikemukakan oleh seorang astronom asal Yunani-Mesir bernama Claudius Ptolemeus pada pertengahan abad ke-2 SM.

Lewat bukunya yang berjudul Almagest, atas dasar pandangan Pytagoras dan Aristoteles. Ptolemy berpendapat bahwa Bumi adalah pusat alam semesta berdasarkan pengamatan sederhana yaitu setengah jumlah bintang-bintang terletak di atas horizon dan setengahnya di bawah horizon pada waktu manapun (bintang-bintang pada bulatan orbitnya), dan anggapan bahwa bintang–bintang semuanya terletak pada suatu jarak tertentu dari pusat semesta.

Buku Almagest. Via Istimewa

Jika Bumi terletak cukup jauh dari pusat semesta, maka pembagian bintang-bintang yang tampak dan tidak tampak, tidaklah sama. Dalam astronomi bola, geosentrik adalah cara memandang atau mendefinisikan posisi benda-benda langit dengan Bumi sebagai pusatnya. Karena jarak objek-objek langit begitu besar jika dibandingkan dengan ukuran Bumi. Maka, posisinya pada bola langit seringkali harus didefinisikan. Tidak lagi bergantung pada posisi pengamat di permukaan Bumi, tetapi Bumi lah yang menjadi pusatnya. Kebanyakan tata koordinat langit merupakan tata koordinat yang geosentrik. Hal ini dilakukan untuk kemudahan semata.

Pemahaman manusia akan alam semesta semakin bertambah seiring dengan perkembangan pemikiran manusia dan kemajuan ilmu dan teknologi. Dahulu yang mengira posisi Bumi kita begitu istimewa, sebagai pusat alam semesta, dan sebagai pusat perputaran seluruh benda-benda langit.

Teori Geosentris dan Heliosentris. Via Istimewa

Setelah bertahan selama lebih dari 1500 tahun, pendapat ini ternyata keliru. Pada 1543, seorang astronom Polandia bernama Nicolaus Copernicus, lewat bukunya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, berpendapat bahwa semua planet – termasuk Bumi – bergerak mengitari matahari. Teori ini dikenal dengan teori Heliosentris.

Teori yang semakin kuat pada awal abad ke-16, astronom Austria bernama Johannes Keppler menemukan hukum peredaran planet atau yang dikenal dengan Hukum Keppler. Keppler mendasarkan teorinya pada hasil pengamatan gerak planet Mars sehingga teorinya benar-benar merupakan hasil analisis data empiris.

Teori Heliosentris. Via Istimewa

Penemuan astronom Italia bernama Galileo Galilei  pada 1610,  tentang adanya empat satelit Jupiter dapat disebut turut mendukung konsep Heliosentris. Pada masa-masa kejayaan Islam pun, para cendekiawan Muslim mulanya mengadopsi dan menggunakan konsep Geosentris-nya Ptolemy. Di sinilah, cendekiawan-cendekiawan Muslim tersebut menemukan ketidakcocokan teori Geosentris terhadap fakta empiris yang ada. Salah satu ilmuwan yang memberikan kritik terhadapnya adalah Ibn al-Haytam. Kemudian berkembanglah berbagai perhitungan astronomis yang didasarkan pada konsep Heliosentris.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *