Astrofotografi

Astrofotografi: Teknik HDR dalam Pengolahan Korona Gerhana Matahari Total


HDR menjadi teknik yang sangat penting dalam pengolahan foto Korona Matahari pada fenomena Gerhana Matahari Total. Seperti yang kita ketahui, dan mungkin juga anda alami langsung pada fenomena Gerhana Matahari Total pada tanggal 9 Maret 2016 yang lalu, Korona Matahari saat fase total terlihat sangat indah dalam pandangan mata. Namun sayangnya, saat dipotret, foto yang dihasilkan tidak seindah seperti yang dilihat oleh mata. Dalam beberapa kali percobaan memotret, dengan menggunakan tingkat eksposur yang berbeda-beda, foto korona yang dihasilkan sangat jauh dengan aslinya dan dengan keindahan apa adanya saja. Pada foto dengan eksposure cepat, korona yang terlihat hanya berada pada bagian dalam dekat dengan pinggiran Matahari/Bulan. Dengan eksposur yang sedikit lebih lambat, korona terlihat lebih besar dan terang, namun terlihat putih pucat tanpa detail yang jelas pada bagian dalam. Sementara pada eksposur yang paling lambat, korona terlihat sangat panjang dan terang, namun juga membuat detail korona bagian dalam menjadi putih terhapus tanpa bekas.

Gambar 3. Foto fase total Gerhana Matahari dengan 3 eksposur yang berbeda. 1/2000 detik (Kiri), 1/80 detik (Tengah) dan 0,8 detik (Kanan).
Kredit: Irfan Imaduddin & Puan Maharani (Bosscha Observatorium)

Fakta tersebut membuat teknik HDR sangat penting untuk digunakan demi menghasilkan foto Korona yang detail secara menyeluruh, bahkan hingga rentangan Korona dengan beberapa solar radii jauhnya. Teknik yang digunakan pun sama, yaitu dengan memotret beberapa foto Korona GMT dengan tingkat eksposur yang berbeda-beda, mulai dari yang paling cepat, hingga yang paling lambat. Memotret GMT dengan eksposur lambat tentu harus ekstra hati-hati karena panjang fokus lensa atau teleskop yang tinggi tentu membuat sentuhan kecil saja akan menghasilkan getaran yang dapat membuat hasil foto menjadi kurang tajam. Selain itu, dalam beberapa pengaturan eksposur yang lebih lambat, gerak semu harian benda langit yang dialami oleh Matahari/Bulan juga dapat menyebabkan hasil foto menjadi trail atau blur jika tidak menggunakan penyangga teleskop (Mounting) khusus yang dilengkapi dengan motor penggerak (Motor Drive).

Setelah seluruh foto dengan berbagai setingan eksposur tadi sudah berhasil didapatkan, mengolahnya di software pengolahan gambar menjadi tantangan selanjutnya. Terdapat banyak teknik pengolahan Korona HDR yang dapat dilakukan, termasuk pilihan Software pengolahan gambar. Namun yang akan dijelaskan di sini adalah dengan menggunakan teknik Radial Blur dan menggunakan Software Adobe Photoshop.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap foto yang akan diolah menjadi gambar HDR harus memiliki komposisi dan posisi yang persis sama tanpa ada pergerakan, pergeseran atau bahkan perubahan sedikit pun. Oleh karena itu, setiap foto Korona GMT harus benar-benar memiliki posisi yang tepat sama, tidak mengalami pergeseran ataupun perputaran (Rotation). Untuk itu, hal pertama yang harus dilakukan sebelum mengolah foto menjadi gambar HDR adalah dengan melakukan teknik Centering, yaitu memastikan semua foto berada tepat di tengah frame dengan rasio yang sama dan juga dengan posisi yang sama tanpa ada perputaran atau rotasi.Setelah memastikan semua sudah tepat di tengah frame dengan posisi yang persis sama, langkah berikutnya adalah mengaplikasikan filter Radial Blur pada seluruh frame. Hal ini dimaksudkan untuk membuat gradasi intensitas yang sempurna pada bagian frame secara radial yang diawali tepat dari tengah gambar hingga bagian pinggir frame. Teknik secara Radial digunakan karena objek yang diolah adalah Korona Matahari yang tentunya memiliki posisi yang melingkar, mengikuti bentuk dari Matahari itu sendiri.

Gambar 4. Bagan contoh pengolahan gambar Korona Matahari dengan Teknik Radial Blur
Kredit: Fred Espenak (www.mreclipse.com)

Langkah berikutnya adalah Substract, yaitu menggunakan tools Apply Image pada Photoshop dengan opsi Substraction dan mengaplikasikan Frame Radial Blur dengan frame asli hasil Centering. sehingga menghasilkan file Substract. Setelah itu, langkah berikutnya adalah Multiplication, yaitu menggunakan tool Apply Image pada Photoshop dengan opsi Multiplication dan mengaplikasikan frame Substraction dengan file asli hasil Centering, sehingga menghasilkan frame Multiplication. Terakhir, seluruh frame Multiplication akan diolah pada langkah terakhir, yaitu Composite, dan menghasilkan gambar foto Korona yang High Dynamic Range. Langkah Composite ini bisa dilakukan langsung di dalam Photoshop atau menggunakan software pengolahan gambar HDR lainnya.

Gambar 5. Foto hasil akhir pengolahan teknik HDR dengan menggunakan software Adobe Photoshop CC 2015. 8 frame dengan eksposur yang berbeda-beda.
Kredit: Irfan Imaduddin & Puan Maharani (Bosscha Observatorium) untuk Pengambilan Data. Muhammad Rayhan (Planetarium Jakarta) untuk Pengolahan Data

Daftar Pustaka

  • Totality Eclipse of the Sun by Mark Littmann, Fred Espenak and Ken Willcox.
  • Lesson From the Master – Current Concepts in Astronomical Image Processing by Robert Gendler.
  • Digital Compositing Techniques for Coronal Imaging, By Fred Espenak.

 


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *