Ada kegembiraan yang kembali dirasakan masyarakat ketika fasilitas kota kembali menyediakan ruang untuk rasa takjub dan inspiratif. Planetarium Jakarta, bagian dari Planetarium dan Observatorium Jakarta, yang kembali dibuka pada 25 Desember lalu berada di simpul itu. Di Jakarta, langit malam kerap tertutup polusi cahaya dan ritme hidup yang serba cepat. Planetarium menawarkan pengalaman yang sulit ditiru, terutama bagi pelajar dan keluarga yang ingin berjumpa sains dalam suasana yang ramah dan interaktif. Langit diproyeksikan, sains dijelaskan, dan imajinasi diarahkan menjadi pengetahuan.

Mengapa Planetarium Menjadi Penting?

Edukasi tentang ilmu astronomi menjadi penting karena dapat memperkuat literasi sains dan membiasakan publik berpikir berbasis bukti ilmiah. Seperti halnya pendidikan sains modern yang menekankan praktik seperti mengamati, memodelkan, menafsirkan data, lalu menyusun penjelasan yang dapat diuji (National Research Council, 2012). Astronomi menyediakan medan latihan literasi sains yang memikat secara visual maupun naratif, melalui pengamatan dan pemahaman terhadap fenomena alam seperti fase Bulan, gerak semu Matahari, peristiwa gerhana, hujan meteor, sampai isu kontemporer seperti polusi cahaya dan satelit. Pemahaman dasar tentang fenomena langit membantu masyarakat kita untuk menilai informasi sains secara lebih kritis, mengikis logika mistika, termasuk ketika fenomena alam dipelintir menjadi klaim mitos atau sensasional. Pemahaman dasar ini kemudian dapat menjadi pupuk bagi minat menuju ilmu-ilmu lain yang lebih spesifik, terutama di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). 

Sejatinya, kehadiran Planetarium juga bekerja sebagai fasilitas pembelajaran informal yang penting. Riset tentang pengalaman pengunjung menekankan bahwa proses belajar pengunjung dipengaruhi konteks personal, sosial, dan fisik. Kualitas narasi, desain pengalaman, serta interaksi pemandu ikut menentukan apakah pengunjung pulang membawa pengalaman dan pemahaman, bukan hanya kesan (Falk & Dierking, 2013). Pada titik ini, Planetarium tampil sebagai fasilitas edukasi publik yang menghubungkan sekolah, keluarga, komunitas, dan rasa ingin tahu masyarakat kita. Selain itu, planetarium memberikan ruang bagi para ilmuwan, perekayasa teknologi, dan pelaku seni modern untuk berkolaborasi dalam karya dan muatan pengetahuan yang mudah dikonsumsi oleh publik. Koneksi dan kompromi yang dibentuk dari interaksi ini akan menghasilkan sebuah siklus pembelajaran yang tidak terputus bagi sesama umat manusia, sembari menghubungkan kembali manusia dengan keindahan Alam Semesta (Tell, 2019).

Potret gedung Planetarium Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Kredit: IDN Times/Dhiya Awlia Azzahra

Analisis Persepsi Publik di Media Sosial

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis perkembangan isu pengoperasian planetarium di Jakarta yang diresmikan oleh Gubernur Jakarta, Ir. Pramono Anung Wibowo, selama periode tanggal 26 Desember 2025 hingga 31 Desember 2025. Data dikumpulkan dari media sosial (Instagram, Tiktok dan Facebook), dengan total sampel data yang bersumber dari 130 postingan dan 4.718 komentar, dengan menggunakan kata kunci “Planetarium Jakarta, Aktivasi Planetarium, Planetarium dan Observatorium Jakarta “#PlanetariumJakarta”. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan metode analisis konten untuk mengidentifikasi tema persepsi publik, serta analisis sentimen untuk mengukur kecenderungan positif, negatif, atau netral dari tanggapan masyarakat.

Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai dampak dan respons publik terhadap isu tersebut.Potret penelitian ini memotret bagaimana percakapan terhadap pembukaan kembali Planetarium Jakarta menunjukkan sentimen positif mencapai 48,26 persen, sentimen netral 39 persen, dan sentimen negatif 13,08 persen. Porsi netral yang besar sering mencerminkan fase evaluasi serta ekspektasi yang diharapkan oleh masyarakat. Sementara itu, porsi negatif tetap penting untuk didalami, sebagai bahan untuk meningkatkan standar kualitas layanan, terutama saat ekspektasi publik meningkat.

Sentimen publik atas Planetarium Jakarta di media sosial. Kredit: Prodata News

Tema percakapan pun mendukung gambaran tersebut. “Nostalgia dan Antusiasme Publik” menjadi tema paling dominan sebesar 43,26 persen. Nostalgia bekerja sebagai pengikat emosi dan memori kolektif, terutama bagi pengunjung yang mengenang kunjungan sekolah. Bersamaan dengan itu, Prodata memetakan klaster kritik yang relatif terstruktur, dimana kritik terkait sumber daya manusia dan keahlian teknis berada di angka 13,19 persen, kritik substansi dan kualitas edukasi sebesar 12,70 persen, kualitas pertunjukan dan instrumen sejumlah 10,02 persen, serta aksesibilitas dan manajemen operasional di angka 9,26 persen. Empat klaster ini memberi pesan yang jelas bahwa publik juga menilai kualitas pengetahuan, kualitas pertunjukan, dan kualitas layanan yang dihadirkan oleh Planetarium Jakarta. 

Kategorisasi topik pembicaraan publik di media sosial terkait dengan Planetarium Jakarta. Kredit: Prodata News

Publik sudah tertarik, lalu menunggu konsistensi pengalaman dan inovasi yang ditawarkan pengelola yang akan menentukan apakah Planetarium dan Observatorium Jakarta dapat kembali menjadi pusat edukasi sains yang dikunjungi dan dinikmati publik secara berulang.

Catatan Terhadap Prioritas Edukasi, Interaktivitas, dan Tata Kelola

Sebagai komunitas publik pecinta astronomi yang berkedudukan di Planetarium dan Observatorium Jakarta sejak tahun 1984, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) memiliki beberapa catatan penting bagi para pemangku kepentingan terkait dengan pembukaan kembali Planetarium Jakarta ini. HAAJ sendiri mengapresiasi komitmen dan upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menjaga fungsi planetarium sembari menyediakan ruang ketiga yang terbuka bagi publik. Meski begitu, HAAJ menilai bahwa peningkatan nilai edukasi dan kualitas interaksi perlu menjadi prioritas jangka pendek yang harus segera dilakukan dengan seksama dan melibatkan para ahli dan kurator yang kompeten di bidang astronomi dan komunikasi sains.

Dari hasil pengamatan langsung dan membandingkan antara ekspektasi masyarakat dan materi yang disajikan di dalam teater bintang, HAAJ menilai konten yang ditayangkan saat ini belum mencapai standar informatif dan interaktif yang umumnya ditawarkan oleh sebuah planetarium. Mengingat keberlimpahan informasi yang kini tersedia berkat kehadiran internet dan kemajuan teknologi audiovisual, penonton di masa ini akan mudah menilai apakah waktu yang dihabiskannya di dalam teater bernilai lebih daripada mencari informasi sendiri melalui gawai masing-masing. Planetarium semestinya menyajikan isi materi dan visual yang menonjolkan penggunaan fasilitasnya yang state of the art, bukan hanya menyampaikan eksposisi naratif dengan penyampaian yang data, secukupnya, dan satu arah layaknya bioskop. Hal ini turut tercermin dari sentimen netral publik yang menyoroti persoalan teknis (kualitas suara dan gambar, pengondisian ruangan) dan substansi materi yang disediakan saat ini. Keberadaan proses kurasi dan timbal balik atas konten tayangan planetarium oleh pakar astronomi yang familiar dengan komunikasi sains dapat membantu mengurangi keluhan-keluhan tersebut.

HAAJ juga menyoroti minimnya kesempatan interaksi yang dapat menambah nilai belajar dan eksplorasi kepada para pengunjung planetarium. Keberadaan holobox yang menampilkan sosok virtual Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta yang dibekali teknologi akal imitasi (AI) dirasa hanya sebatas gimmick teknologi terbaru dari pengelola. Waktu interaksi antara penonton dan holobox yang terbatas (beberapa menit di antara waktu akhir tayangan dengan waktu penutupan teater) turut mendukung penilaian ini. Hal ini berbeda dengan kondisi planetarium sebelumnya yang juga memiliki fasilitas pendukung interaksi seperti ruang pameran, perpustakaan, hingga pelataran interaksi yang dipenuhi peraga dan ornamen aksesoris bertema Alam Semesta. Prasarana tersebut tentunya dapat dimanfaatkan pengunjung secara maksimal dengan bantuan sosok edukator astronomi yang tersedia sepanjang saat dan dapat beradaptasi dengan berbagai tipe warga yang menyapanya. Sentuhan manusia ini adalah kunci pengayaan pengalaman masyarakat yang akan menambah kesan dan meningkatkan peluang terjadinya repetisi kunjungan dan rujukan positif kepada masyarakat lain yang belum menikmati planetarium sebelumnya.

Di luar kedua hal tersebut, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di balik layar, seperti pengadaan proyektor planetarium baru, fasilitas observatorium yang masih vakum, hingga dualisme pengelolaan antara PT Jakarta Propertindo (sebagai pemilik sarana dan prasarana) dan Dinas Kebudayaan (sebagai pengemban tugas, pokok, dan fungsi edukasi astronomi). Penanganan masalah mendasar ini harus dapat diselesaikan dengan cara-cara yang transparan dan kolaboratif, serta melibatkan kepakaran yang relevan secara aktif dan sinergis. Hal ini diperlukan karena sebuah fasilitas publik, terutama bagi sebuah pusat edukasi sains, tidak dapat bertahan lama tanpa adanya fondasi kebijakan dan dukungan yang kokoh dari para pemangku kepentingan publik.

Bisakah Planetarium di Jakarta Direplikasi di Seluruh Provinsi?

Langkah dan pengalaman yang dimiliki oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta hingga saat ini setidaknya telah membuktikan bahwa minat masyarakat akan akses edu-wisata yang terjangkau dan menarik masih sangat tinggi. Planetarium Jakarta  secara historis telah dan semestinya selalu menjadi role model nasional. Antusiasme publik sudah terbukti, sementara kritik publik memberikan peta perbaikan yang konkret. Momentum reaktivasi planetarium  ini  memiliki nilai strategis yang lebih besar, yakni untuk membangun standar layanan planetarium publik yang bisa direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia. Jakarta, bersama dengan daerah lain yang telah memiliki fasilitas serupa, dapat merumuskan “paket minimum” dalam penyelenggaraan planetarium publik, yang mencakup  standar kurikulum pertunjukan, standar kompetensi edukator, standar teknis perangkat, standar edukasi interaktif, hingga standar pengalaman pengunjung.

Target jangka menengah yang realistis adalah hadirnya satu planetarium di setiap provinsi, dengan Planetarium dan Observatorium Jakarta berperan sebagai pusat rujukan praktik baik, tempat modul diuji, pelatihan diselenggarakan, dan evaluasi mutu di-standardisasi. Jika model ini berjalan, pemerataan literasi sains tumbuh melalui ekosistem belajar yang berkelanjutan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada akhirnya, euforia publik adalah modal sosial. Kritik publik adalah peta kerja. Ketika pengelolaan mampu menjadikan keduanya sebagai dasar perbaikan, Planetarium Jakarta akan berkembang menjadi ruang belajar yang relevan untuk warga Jakarta, sekaligus menjadi role model bagi provinsi lain di Indonesia.

Aktivasi teater bintang tidak boleh menjadi akhir dari perjuangan kita semua, karena Planetarium dan Observatorium Jakarta pada masa jayanya merupakan sebuah ekosistem edukasi interaktif yang terpadu. Mulai dari masyarakat, pelajar dan pengajar sekolah, profesional, hingga akademisi dapat mengambil manfaat dari keberadaan ekosistem ini. Sinergi antara para pemangku kebijakan di Balaikota, para cendekiawan di bidang astronomi, dan para pelaksana tugas di Cikini menjadi kunci utama suksesnya pemulihan fungsi Planetarium dan Observatorium Jakarta sebagai mercusuar komunikasi sains nasional yang berperan aktif dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.

– Ketua HAAJ, Muhammad Rezky, M.Si.

Artikel ini merupakan hasil kerja sama antara HAAJ dengan Prodata News
Penulis: M. Bashroni Shidqon, S.IP., M.IP. (Prodata News) dan Muhammad Rezky, M.Si. (HAAJ)
Kontributor: Muhammad Iqbal Fathoni, S.Si. (Prodata News)
Editor: Febrian Brahmanantya Mukti, S.Hub.Int.(Prodata News)

Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *