Fenomena Langit

Menikmati Fenomena Super Blue Blood Moon di Planetarium Jakarta


Pada tanggal 31 januari terjadi fenomena Super Blue Blood Moon. Demi menyambutnya, Planetarium Jakarta menyiapkan 16 teleskop untuk pengamatan umum. Banyaknya teleskop ini sangat dibutuhkan, karena jumlah peserta mencapai 7000 orang.

Dok. HAAJ

Fakta Singkat Super Blue Blood Moon

Super Blue Blood Moon atau dalam bahasa Indonesianya Bulan Biru Darah. Merupakan gabungan dari tiga fenomena  yaitu, Supermoon, Blue Moon dan Blood Moon. Berikut penjelasan singkatnya.

Supermoon atau Bulan Super terjadi ketika Bulan sedang berada pada titik terdekatnya dengan Bumi. Hal ini membuat Bulan jadi terlihat lebih besar dan terang.

 

Blue Moon atau Bulan Biru adalah peristiwa ketika ada dua Bulan purnama dalam satu bulan Masehi. Jadi ketika Blue Moon, Bulan tidak berubah warna sama sekali.

 

Blood Moon atau Bulan Darah adalah sebutan lain dari Gerhana Bulan Total. Karena pada puncaknya, Bulan akan berwarna merah karena tertutup bayangan Bumi.

 

Kronologis pengamatan gerhana Super Blue Blood Moon 

Pengunjung sudah berdatangan sejak siang. Setelah salat Ashar, semua teleskop mulai dirakit di lokasi masing-masing. Setiap lokasi ditandai dengan angka. Pada kesempatan ini, saya menjadi asisten kak Ronny Syamara, yang menggunakan teleskop bermotor beserta kamera untuk memotret fenomena ini.

Dok. HAAJ. Daftar Penjaga Teleskop

 

Pada pukul 18:15 WIB, para pengunjung sudah mulai ramai bertanya kapan Bulan muncul. Kurang lebih 15 menit kemudian Bulan sudah mulai terlihat. Pada saat itu, Bulan sudah memasuki fase umbra dan meninggalkan penumbra.

Dok. Ceca. Foto Bulan Yang Baru Muncul Diantara Bangunan-Bangunan

Reaksi peserta bermacam-macam, ada yang melihat sebentar lalu selesai tanpa komentar, ada yang ingin memotret Bulan menggunakan telepon genggam dengan teleskop, ada yang tidak bisa berkata-kata saat melihat Bulan jadi indah. Ada juga yang saking semangatnya, teleskop sampai tersenggol, dan masih banyak lagi. Tapi, ada satu ekspresi yang terlihat hampir semua wajah peserta yaitu ekspresi takjub melihat indahnya Bulan melalui teleskop.

Salah satu pertanyaan yang sering saya dengar adalah, “kok bulannya gak beneran biru?”. Seperti yang saya tulis di atas, Blue Moon terjadi ketika dua Bulan purnama pada satu bulan Masehi. Walaupun sebetulnya, Blue Moon di mana Bulan berubah menjadi warna biru, bisa saja terjadi ketika sebuah gunung berapi yang besar meletus dan mengeluarkan abu vulkaniknya ke langit. Abu vulkanik tersebut bersifat sebagai filter untuk warna lain, jadi hanya warna biru yang terlihat. Namun, tetap saja sangat jarang terjadi, karena tidak setiap hari gunung berapi meletus.

 

Bulan tertutup awan, Sirius pun menjadi objek pengamatan

Pada pukul 19:20 – 20:25 WIB, keadaan langit berubah mendung. Karena keadaannya tidak bisa untuk mengamat, kegiatan diganti menjadi diskusi seputar Astronomi. Ketika langitnya sudah sedikit terbuka dan Bintang Sirius terlihat, teleskop diarahkan ke sana sebagai alternatif. Tidak jarang, Bulan memberi “harapan palsu” dengan memperlihatkan wajahnya di antara awan-awan. Ketika itu terjadi, langsung terdengar seruan bahagia dari para peserta. Tapi seruan itu tidak lama, berganti dengan seruan kecewa karena Bulan tertutup lagi oleh awan.

Dok. Ceca. Suasana Pengamatan

Tak lama kemudian, pada pukul 20:29 WIB, Bulan mulai terlihat dan teleskop pun diarahkan ke Bulan. Saat itu fase gerhana sudah mencapai puncaknya. Pada saat awan terbuka dan memperlihatkan Bulan merah yang indah, seruan takjub, kagum dan bahagia keluar dari ucapan seluruh peserta Gerhana Bulan Total ini.

Dok. Ceca

Pada pukul 21:50 WIB, antrian pengunjung sudah habis. Bulan pun sudah berada di antara umbra dan penumbra. Karena antrian sudah habis, saya mengisi waktu dengan menulis logbook yang sebelumnya saya simpan dalam bentuk video pendek lewat handphone. Lengkap dengan dengan deskripsi dan waktu kejadian.

Setelah itu kami merapikan teleskop pada pukul 23:00 WIB, mengingat fenomena Gerhana Bulan Total telah berakhir.  Saat semua bagian teleskop sudah rapi dan siap dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan, saya melakukan pengecekan akhir untuk memastikan tidak ada barang yang hilang atau tercecer. Akhirnya, sekitar pukul 00:30 WIB, semua teleskop dipindahkan ke ruang kantor Planetarium Jakarta dan siap untuk disimpan ke ruang teleskop keesokan harinya. (Rakean Shidqii Hasan Ali Wisesa)

 


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *