Gerhana Bulan Total (GBT) merupakan fenomena astronomi yang terjadi ketika Bulan melewati bayangan inti (umbra) Bumi terhadap Matahari, sehingga hanya sedikit cahaya langsung dari Matahari yang dipantulkan oleh permukaan Bulan. Pada kondisi normal, Bulan seharusnya sedang berada pada fase Purnama. Namun kondisi saat GBT membuatnya akan tampak gelap dengan warna yang cenderung kemerah-merahan. Fenomena ini akan dapat diamati dari benua Asia, Australia, dan Amerika pada tanggal 3 Maret 2026. Sebelum mengamati secara bersama-sama, yuk ketahui fakta-fakta menarik dan penting tentang fenomena ini.

Jakarta tidak dapat mengamati proses gerhana yang lengkap.
Sebuah proses GBT yang lengkap terdiri dari beberapa tahap, seperti yang ditampilkan pada ilustrasi berikut. GBT akan bermula dari fase gerhana penumbral (P1, Bulan mulai masuk ke dalam bayangan penumbra Bumi), dilanjutkan gerhana sebagian (U1, Bulan mulai masuk ke dalam bayangan umbra Bumi), totalitas (U2–U3, Bulan mengalami gerhana total), lalu kembali ke fase sebagian (U4) dan penumbral (P4).
Proses gerhana yang terjadi pada 3 Maret 2026 nanti akan berlangsung selama 5 jam 39 menit, dengan durasi totalitas selama 58 menit. Proses dari awal ke akhir ini akan dapat disaksikan oleh 2% dari penduduk Bumi yang tinggal di pantai timur Australia, Oseania, sebagian timur Jepang dan Rusia, serta sebagian barat Amerika Serikat dan Kanada.
Di sisi lain, pengamat dari Jakarta hanya akan menyaksikan gerhana selama 3 jam 17 menit, dimulai dari awal fase totalitas. Hal ini terjadi karena Bulan baru akan terbit di ufuk timur Jakarta pada pukul 18.06 WIB, tidak lama setelah Bulan memulai fase totalitas pada 18.04 WIB. GBT di Jakarta dapat diamati hingga selesai, tepatnya pada pukul 21.23 WIB, di saat Bulan kembali tampak pada fase purnamanya.


| Kode | Fase | Waktu Jakarta (WIB) | Kondisi di Jakarta |
| P1 | Awal penumbral | 15:44 | Belum tampak di atas ufuk |
| U1 | Awal sebagian | 16:50 | Belum tampak di atas ufuk |
| U2 | Awal totalitas | 18:04 | Belum tampak di atas ufuk |
| – | Bulan terbit | 18:06 | – |
| P | Puncak totalitas | 18:33 | Sudah tampak di atas ufuk |
| U3 | Akhir totalitas | 19:02 | Sudah tampak di atas ufuk |
| U4 | Akhir sebagian | 20:17 | Sudah tampak di atas ufuk |
| P4 | Akhir penumbral | 21:23 | Sudah tampak di atas ufuk |
Sebagai tambahan, GBT kali ini juga tidak dapat terlihat secara lengkap di seluruh Indonesia karena menunggu waktu terbit Bulan di masing-masing lokasi. Meski begitu, pengamat di zona WIT akan mengamati GBT yang lebih lama (paling cepat saat fase penumbral) dibanding pengamat di zona WIB.
Mengapa Bulan tampak cenderung merah, bukan gelap total?
Melihat kembali skema pada Gambar 1, tentu secara logika akan menganggap bahwa Bulan seharusnya tidak mendapatkan cahaya apapun dari Matahari karena dihalangi Bumi. Ternyata, Bulan akan tetap mendapatkan cahaya dari Matahari secara tidak langsung berkat fenomena hamburan Rayleigh yang terjadi pada atmosfer Bumi.
Cahaya Matahari sejatinya merupakan gabungan dari warna-warni pada panjang gelombang cahaya tampak, dengan warna biru-keunguan di ujung spektrum dengan panjang gelombang yang lebih pendek dan warna kemerahan di ujung spektrum dengan panjang gelombang yang lebih panjang. Ketika melewati atmosfer Bumi, yang terbentuk dari berbagai gas, partikel debu, dan uap air, cahaya dengan panjang gelombang biru-keunguan akan berinteraksi dengan partikel-partikel di atmosfer Bumi sehingga terhamburkan.
Proses hamburan pada gelombang biru-keunguan lebih besar daripada gelombang kemerahan, sehingga cahaya Matahari yang diteruskan (dan dibelokkan) atmosfer Bumi ke permukaan Bulan akan cenderung lebih merah. Proses hamburan cahaya inilah yang juga menjadi alasan mengapa kita melihat langit siang dari permukaan Bumi berwarna biru.
Meski secara umum akan tampak kemerahan, cahaya biru atau biru toska dapat terlihat di tepi bayangan umbra Bumi, tepat sesaat di awal atau akhir fase totalitas. Hal ini dimungkinkan terjadi karena cahaya yang melewati lapisan ozon atmosfer Bumi menghamburkan cahaya kemerahan dan meneruskan cahaya biru-keunguan, berbeda dengan lapisan atmosfer Bumi di ketinggian lain.

Dapat diamati tanpa persiapan khusus
GBT dapat diamati oleh setiap orang dengan mata telanjang sepanjang malam hari, tanpa bantuan alat pengamatan apapun. Hal ini dimungkinkan karena cahaya yang diamati merupakan pantulan, bukan sinar langsung, dari cahaya Matahari. Jika ingin melihat fitur permukaan Bulan sepanjang gerhana berlangsung, pengamat dapat menggunakan binokuler atau teleskop sederhana.
Gerhana total terakhir di Jakarta sebelum 2028
GBT kali ini merupakan gerhana kedua dari 4 gerhana yang akan terjadi sepanjang tahun 2026 ini. Meski begitu, hanya GBT 3 Maret nanti yang dapat terlihat di Indonesia. Gerhana selanjutnya yang dapat diamati di hampir seluruh wilayah Indonesia akan terjadi pada 20 Februari 2027, yakni gerhana Bulan penumbral. Untuk gerhana total sendiri, baru akan terjadi lagi dalam bentuk gerhana Bulan total pada 31 Desember 2028.
GBT 3 Maret 2026 juga merupakan bagian dari sebuah siklus Saros 133. Dalam sebuah siklus, semua gerhana akan memiliki pola pergerakan Bulan dan waktu gerhana yang sangat mirip. Satu siklus Saros memiliki periode selama 18 tahun 11 hari 8 jam, yang berarti gerhana Bulan total selanjutnya pada siklus ini, dengan lokasi dan durasi pengamatan yang hampir sama, akan terjadi kembali pada 13–14 Maret 2044.
HAAJ ikut menyambut GBT 3 Maret 2026 di Taman Ismail Marzuki
Untuk meramaikan malam gerhana kali ini, HAAJ akan hadir menemani masyarakat Jakarta untuk melihat fenomena GBT secara bersama-sama pada kegiatan Pengamatan Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang diadakan oleh Planetarium dan Observatorium Jakarta (POJ), UP PKJ TIM. Kegiatan akan berlangsung di pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, diawali dengan seminar umum pada 16.30 WIB, dilanjutkan pengamatan sejak waktu terbit Bulan hingga pukul 21.30 WIB.







